Perjalanan Hidup Seorang Wanita Sederhana Dibalik Jilbab

Pada tanggal 07 bulan 07 tahun 1991 tepat pukul 06.30 WIB Alloh SWT telah mengaruniakan seorang bayi perempuan yang lucu kepada keluarga sederhana dari pasangan suami istri Bapak Djumadi dan Ibu Juwati.Bayi tersebut lahir di Rumah Sakit Dr.Raden Soedjati di jalan DI.Panjaitan No.36 Purwodadi – Grobogan dengan selamat dan sehat wal’afia.Bayi tersebut di beri nama “Mifta Luthfin Alfiani”sebagaimana nama adalah sebuah doa yang diberikan orang tua kepada anaknya agar bayi tersebut menjadi anak yang bisa selamat dunia akhirat.Orang tua Mifta memberi nama panggilan untuk anaknya yaitu Fifin,tapi berjalan dengan keadaan lingkungan di desa,nama panggilan Fifin diubah secara tidak langsung oleh tetangga sekitar menjadi Pipin. Hal ini disebabkan karena lidah orang desa sulit untuk mengucapkan huruf konsonan “F”.Pipin sejak kecil sudah dirawat oleh neneknya atau yang biasa dipanggil dengan Mbah Ti ( mbah putrid ).Kenapa bias dirawat oleh mbah Ti….?? Karena ibu sama bapak jika jam sudah menunjukkan pukul 06.30 WIB berarti beliau sudah waktunya berangkat kerja.Ibu kerja sebagai Kepala Tata Usaha di SMP Negeri 1 Tawangharjo sedangkan Bapak sebagai Guru yang mengampu mata pelajaran Pendidikan Kewanganegaraan di MTs Negeri 1 Wirosari.Pipin hanya mempunyai satu saudara perempuan yaitu kakaknya yang bernama Muflikah Khushanani.Pertama kali susu formula yang diberikan kepada Pipin adalah susu formula SGM, tapi pada tubuh Bayi mungil itu kurang cocok dengan susu formula SGM, karena jika dia diberi minum susu formula SGM selalu diare.Maka ibu langsung mengganti susu formula Dancow yang Alhamdulillah cocok dengan kondisi tubuh Pipin.Dia jika pada waktu makan tidak ada lauk ikan atau ayam pasti merengek-rengek di tengah jalan minta makan sama lauk ikan dan ayam.Masa kecil Pipin tidak pernah memiliki rambut panjang,karena ibu dan bapak tidak suka jika anaknya punya rambut panjang apalagi potongan rambutnya tidak rapi.Ibu selalu memberikan pakaian seperti anak laki-laki. Pertama kali dia mengayam pendidikan pada waktu umur tiga tahun.Dia menganyam pendidikan di Taman Kanak-kanak Dharmawanita desa Truwolu.Jumlah guru yang mengajar di Taman Kanak-kanak tersebut bernama Bu Sari dan Bu Tatik.Mereka sangat sabar dalam mengahadapi tingkah laku anak-anak TK.Pada waktu Pipin di Taman Kanak-kanak setiap pagi mbah Ti selalu dengan setia mengantarkan cucu kesayngannya ke sekolah.Tidak tanggung-tanggung mbah Ti mengantarkan sampai menunggu hingga jam belajar mengajar di Taman Kanak-kanak usai selama empat tahun.Benar-benar perjuangan seorang nenek kepada cucunya tersayang.Biasanya Pipin sesudah sampai rumah langsung melepaskan seragam yang di kenakan dan langsung meluncur keluar rumah untuk bergabung bermain bersama-sama teman-teman cowok.Disana dia adalah satu-satunya anak cewek yang gerombolan bermainnya dengan anak cowok.Dia menempuh pendidikan di Taman Kanak-kanak selama kurang lebih empat tahun.Hal ini disebabkan karena pada waktu itu dia belum waktunya masuk TK tetapi dia ngotot untuk masuk sekolah.Hingga akhirnya pada waktu teman-teman lulus dari TK,dia masih tinggal kelas karena belum cukup umur untuk naik ke kelas satu sekolah dasar.Pada tahun depannya tiba saatnya buat Pipin masuk sekolah dasar. Dia sekolah dasar di SD Negeri 1 Truwolu yang jarak tempat sekolah dengan rumahnya tidak terlalu jauh.Dia selalu berangkat sekolah dengan sepeda phoniex yang berwarna merah.Guru yang mengajar dia waktu kelas satu yaitu bu Kartini,di kelas awal atau mula tersebut dia belum bisa membaca dengan lancar,setelah naik kelas dua Pipin baru bisa membaca dengan lancar.Pada waktu menempuh pendidikan dasar dia sering menjadi juara kelas.Sampai pada kelas V dia ditunjuk untuk lomba cerdas cermat mewakili sekolahnya di tingkat kecamatan.Dia ditunjuk untuk lomba mata pelajaran ilmu pengetahuan alam,sayang dalam perlombaan tersebut dia tidak mendapat juara.Kelas VI dia berhasil mendapatkan nilai tertinggi dalam ujian nasional.Pada waktu kelulusan SD Pipin telah mengalami masa haid atau menstruasi yang pertama kali.Dia pada umur 12 tahun belum mengerti apa yang dinamakan menstruasi.Dia kaget waktu mendapati di celana dalamnya terdapat bercak darah.Dia bingung mau berbuat apa, dia langsung ingat kalau setiap bulannya ibu dan kakaknya selalu memakai pembalut.Dia langsung saja secara mengambil pembalut dan mengenakannya.Tapi setelah dia mengenakan pembalut itu ternyata ada rasa yang aneh,rasa setelah memakai pembalut malah seperti lengket-lengket.Ternyata dia salah menggunakan pembalut, yang seharusnya perekat pembalutnya direkatkan pada celana dalam justru si Pipin ini kebalik memasang pembalutnya.
Setelah lulus dengan nilai yang memuaskan dia meneruskan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi yaitu Sekolah Menengah Pertama. Dia mendaftarkan dirinya di SMP Negeri 1 Wirosari. Untuk masuk ke SMP Negeri itu harus mempunyai nilai ujian nasional yang rata-ratanya delapan. Dengan nilai yang diperoleh memuaskan maka dia ditrima di SMP Negeri 1 Wirosari. Di SMP dia mendapatkan pembagian di kelas VII E.Yang menjadi wali kelas VII E tersebut adalah Bu Eka Sulistyaningsih yang biasa dipanggil dengan sebutan Bu Eka. Pipin di SMP mengikuti berbagai ekstrakulikuler diantaranya yaitu pramuka dan musik. Di ekstrakulikuler pramuka dia terpilih menjadi PASUSKA ( Pasukan Khusus Pramuka). Para anggota PASUSKA dilatih dan digembleng habis-habisan oleh para seniornya.Hal ini dilakukan bertujuan untuk bisa mempunyai bekal dan ilmu yang cukup nantinya yang akan di tularkan pada adik-adik kelas atau juniornya.Naik kelas VIII dia mendapatkan teman-teman yang begitu solid,teman yang sering dia ajak kesana kemari yaitu Sinta dan Puput. Sinta ini adalah murid paling pinter dikelas, dia anak dari keluarga kurang mampu, tapi semangat untuk menganyam pendidikan itu sangat tinggi.Begitu juga Puput, dia anak dari keluarga kurang mampu tetapi puput kurang pintar dalam hal pelajaran. Di kelas VIII wali kelas nya yaitu Bu Sus Setianingtyas. Bu Sus ini ternyata cinta lokasi dengan kakak sepupu Pipin yaitu mas Hafid yang juga mengajar di SMP Negeri 1 Wirosari. Jadi hubungan Pipin dengan bu Sus lumayan dekat, karena bu Sus selalu mencari info tentang mas Hafid. Naik kelas IX dia mendapatkan jatah kelas yang anak-anaknya super bandel dan nakal.Sampai-sampai wali kelas nya angkat tangan. Pak Sukrisno adalah wali kelas Pipin saat kelas IX. Pak Sukrisno sangat menyanyangi murid-muridnya,pada akhirnya waktu pengumumman kelulusan,kelas yang banyak tidak lulus adalah kelas yang diampu oleh pak Sukrisno. Pada saat mengumumkan pak Sukrisno merlinangan air mata, dia tidak tega mengumumkan hasil ujian nasional, karena siswa yang tidak lulus dikelas Pipin ada 6 siswa. Tapi pak Sukrisno mau tidak mau harus mengumumkan hasil ujian yang begitu pahit. Alhamdulillah atas izin ALLOH SWT Pipin adalah siswa yang lolos dari jurang maut, nilai Bahasa Inggrisnya hampir mendekati dengan batas standart kelulusan.
Setelah Ijazah dan SKHU keluar Pipin mendaftar di SMA Negeri 1 Wirosari. Untuk masuk di SMA tersebut harus melalui tahp seleksi yaitu dengan tes tertulis dan nilai ujian nasional yang rata-ratanya harus diatas 7,5. Hal ini membuat dia bingung karena rata-ratanya yang hampir kurang dari nilai rata-rata yang telah di tentukan oleh panitia penerimaan siswa baru SMA Negeri 1 Wirosari. Tapi dengan nilai rata-rata yang minim membuat Pipin tidak pitus asa dan pantang menyerah untuk tetap selalu optoimis dalam mengikuti seleksi penerimaan siswa baru. Hal ini malah menjadi pemicu dan penambah semangat untuk selalu berusaha belajar lebih giat dan tak lupa akan ke Esaan ALLOH SWT. Waktu ujian tertulius pun tiba, Pipin mengerjakan soal yang telah di berikan panitia dengan sangat hati-hati dan teliti. Seminggu setelah seleksi masuk, pengumummanpun tiba, dan alhamdulillah dia lolos dalam ujian tertulis tersebut. Dimana nilai akhir ujian seleksi tersebut adalah hasil dari penjumlahan dari nilai rata-rata ujian nasional di tambah dengan nilai ujian tertulis. Hasil yang dia dapat sangat memuaskan. Pipin masuk dalam 30 besar siswa dengan nilai terbaik. Pada saat masa orientasi siswa baru dia digarap habis-habisan oleh para seniornya, karena Pipin ini anaknya suka protes. Pertama kali masuk pada masa orientasi siswa Pipin menemukan sesosok cowok yang dia kagumi. Awalnya Pipin di sms oleh si cowok tersebut meminta kenalan dengan Pipin. Nah dengan otomatis Pipin bingung dengan dia sms, kok bisa tau nomor handphone dia darimana ya??? Ternyata waktu masa orientasi siswa baru disuruh ngisi biodata lengkap dengan nomor handphone. Dia mendapat nomor handphone itu dari salah satu teman yang menjadi pengurus OSIS. Cowok tersebut bernama Warsidi, memang penampilan dia itu beda dengan cowok-cowok lainnya. Dia kalau memakai seragam OSIS selalu rapi dan semua kancing baju selalu dikaitkan. Yang membuat beda lagi yaitu sepatunya, dia tiap kali ke sekolah selalu memakai sepatu fantovel yang seperti bapak-bapak guru.Dari itulah Pipin sangat mengagumi dengan apa yang yang menjadi ciri khas dia sendiri. Tapi semua itu hanya sebatas mengagumi saja tak lebih dari hubungan kakak kelas dan adik kelas.
Sampai waktunya dia masuk kelas X, ternyata dia tidak satu kelas dengan teman baiknya selama dia berada di SMP. Temannya bernama Lintang, dia adalah teman satu kelas dan satu bangku selama berada di SMP. Pipin di SMA pun ingin satu kelas dan satu bangku dengan Lintang, sampai orang tua Pipin meminta agar Pipin dan Lintang dapat satu kelas. Usulan dari orang tua Pipin kepada pihak panitia ternyata di kabulkan. Rasanya senang sekali bisa satu kelas dengan teman yang selama ini sudah bisa ngertiin isi hati Pipin. Tapi sistem di SMA itu tiap kenaikan kelas para siswa di acak untuk di bagi ulang penempatan kelasnya. Pipin dan Lintang ternyata tidak dapat berkumpul kembali dalam satu kelas dan satu bangku lagi. Perasaan yang terjadi saat itu sangat sedih sekali berpisah dengan teman baik, meskipun Pipin dan Lintang berada dalam satu lingkup sekolah yang sama. Sejak saat itu jarak persahabatan diantara Pipin dan Lintang berubah drastis, yang dulunya mereka sering smsan di setiap waktu, dimana pun mereka berada selalu curhat satu sama lain. Tapi semua kenangan itu hilang begitu saja, setelah Lintang mempunyai cowok baru untuk yang pertama kalinya. Lintang tidak pernah lagi kontak dengan Pipin, mungkin cowoknya sudah bisa mengisi hari-harinya yang dulunya belum ada seseorang yang spesial dihatinya. Tapi Pipin juga menyadari bahwa antara pertemanan yang sudah 4 tahun dengan cowok yang baru di kenalnya lebih penting seseorang yang baru dikenal.
Kelas XII adalah masa-masa untuk persiapan yang lebih matang untuk menghadapi ujian nasional. Yang pada waktu itu standart kelulusan sudah semakin tinggi. Membuat para siswa untuk selalu optimis dengan standart kelulusan yang setiap tahunnya selalu naik.Tiba saatnya hari H ujian nasional sudah di depan mata, mau tidak mau mereka semua harus mengerjakan soal dengan benar dan tepat. Setelah ujian nasional berakhir Pipin dan teman-teman takut untuk menerima hasil dari 3 tahun menempuh pendidikan di SMA. Waktu pengumumman ada salah satu teman Pipin yang tidak lulus ujian nasional. Sedih sekali rasanya ada satu teman yang tidak lulus tapi teman-teman yang lain merasa bahagia akan jerih payahnya selama 3 tahun.
Setelah lulus dari SMA, orang tua menyuruh Pipin untuk mendaftar di UNNES ( Universitas Negeri Semarang ) dengan mengambil prodi pendidikan matematika dan perdidikan fisika. Pipin dari awal memang tidak terlalu suka dengan profesi guru, hal ini di sebabkan karena ibu,bapak,dan kakak sudah berprofesi sebagai guru. Tapi dengan prinsip yang dimiliki oleh Pipin sangat kuat ingin menjadi diri sendiri yang berbeda profesi dengan semua anggota keluarganya. Akhirnya Pipin tidak ditrima di Universitas Negeri tersebut. Lalu Pipin memndapatkan PMDK dari UNDIP ( Universitas Diponegoro ) mengambil prodi S1 Statistika, dan di UNDIP pun dia tidak ditrima. Dia tidak putus asa dengan sudah mendaftar 2 kali Universitas Negeri di Semarang masih ingin mencoba mendaftar STIS ( Sekolah Tinggi Ilmu Statistik ). Takdir berkata lain Pipin tidak di trima juga di STIS. Namun dari pendaftar STIS yang tidak di trima sebagian ada yang mendapat surat panggilan dari UNIMUS ( Universitas Muhammadiyah Semarang ). Untuk ketentuan yang mendapat surat panggilan tersebut jika ingin masuk kuliah di UNIMUS, maka mereka berhak tidak meng ikuti ujian seleksi. Tapi sayang Pipin ini kurang beruntung dari teman-temannya, dia tidak mendapatkan surat panggilan tersebut. Dengan sangat terpaksa jika ia ingin masuk kuliah di UNIMUS harus mengikuti ujian One Day Service. One Day Service merupakan ujian yang di laksanakan hanya satu hari full di depan komputer dan langsung bisa melihat hasil dari ujian tersebut. Pada saat ia mendaftar di UNIMUS adalah waktu pertama kali puasa ramadhan di laksanakan. Bisa di bayangkan betapa panasnya naik sepeda motor dari Ngaringan sampai Kedungmundu untuk pulang pergi. Semua itu tidak sia-sia, karena Pipin berhasil lolos dari ujian One Day Service tersebut. Begitu tahu lolos dari ujian tersebut, Pipin dan Ayahnya langsung mencari kost, dimana untuk kampus Fakultas Matematika dan IPA di pusatkan di Ngaliyan. Disana Pipin dan ayahnya berkeliling dari rumah ke rumah, untuk mencari informasi tempat kost yang bersih dan layak huni. Dengan izin Alloh dengan cepat Pipin dan ayahnya langsung menemukan rumah kost yang layak huni. Kost yang ia tempati ternyata ada ibu kostnya. Pertama melihat ibu kost, ia kaget sekali karena ibu kost yang usianya sudah di atas kepala empat, cara berpakaiannnya seperti anak ABG. Ibu kost orangnya sangat disiplin tapi menurut Pipin, ibu kostnya itu Over ketat untuk masalah kebersihan kost. Jika dikost berantakan dan kotor pasti ibu selalu ngomel-ngomel tidak jelas sehari penuh. Disana Pipin mendapatka teman baru yang menurut dia teman disana adalah sebagai saudara sendiri. Mbak-mbak kost yang dekat dengan Pipin yaitu Mbak Noni dan Mbak Cipuk. Mereka semua selalu curhat tentang masalah pribadinya kepada Pipin. Jika ingin jalan-jalan kemana mereka selalu memngajak Pipin untuk menemani. Semua itu hanya berlangsung selama satu semester saja, karena kampus untuk prodi S1 Statistika di pindah ke Kedungmundu. Karena Pipin adalah mahasiswa baru maka ia tidak tahu akan persoalan yang dihadapi UNIMUS dengan AIS ( Akademi Ilmu Statistik ). Di Ngaliyan tiba-tiba saja mahasiswa AIS pada demo menuntut Dekan FMIPA untuk bertanggung jawag akan masalah penggabungan UNIMUS dengan AIS. Kami mahasiswa UNIMUS pun tidak terima akan hak kita sebagai mahasiswa belum terpenuhi. Mahasiswa FMIPA tingkat I dan tingkat II pun menuntut kepada bapak rektor yaitu bapak Soesanto untuk memenuhi hak kita sebagai mahasiswa. Salah satu tuntutan kami pun dipenuhi oleh bapak rektor, namun belum sepenuhnya. Setelah pindah kampus Pipin dan teman-teman pun bisa merasa sedikit lega, karena kami belajar bisa merasa tenang. Waktu pertama kuliah Pipin aktif mengikuti organisasi IMM ( Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah ). Berbagai iven sering diikuti, namun di dalam organisasi IMM itu ada sedikit gangguan bagi dia. Peminat dari organisasi IMM ini sangatlah minim, hal itu yang membuat dia merasa canggung untuk tetap aktif mengikuti organisasi tersebut. Sampai suatu hari Pipin di suruh mengikuti DAD ( Darul Arkom Dasar ), namun ia tidak mau ikut akan berbagai alasan. Di dalam IMM ia mendapat teman yang bisa dibilang sebagai kakak, karena dia selalu memberi banyak motivasi tentang semangat untuk tetap belajar dalam keadaan apapun juga. Dia adalah Mas Muhtarom Muhyidin, biasa dipanggil dengan mas Tarom. Pipin sangat mengagumi dengan motivasi yang selama ini mas Tarom bisa bertahan kuliah sampai saat ini. Mas Tarom kuliah tidak pernah diberi uang oleh orang tuanya , justru orang tua nyalah yang meminta uang kepada mas Tarom. Namun sekarang mas Tarom tidak mau kenal dengan Pipin dan melupakan semua kenangan diwaktu kita mengikuti IMM. Mas Tarom merasa kecewa dengan kepitusan yang Pipin buat untuk tidak mengikuti DAD.
Kampu pindah,dosen walipun ganti. Yang dulunya dosen wali Pipin adalah bapak Soesiono namun sekarang di ganti dengan ibu Siti Hajar Rahmawati. Padahal Pipin lebih suka jika Pak Soesiono yang menjadi dosen walinya. Namun semua itu sudah menjadi keputusan dekan yaitu bapak Rochdi Wasono. Perkuliahan pun berjalan lancar, tapi ada sedikit masalah tentang salah satu teman kuliahnya. Ambardanti namanya, dengan tiba- tiba saja Ambar memutuskan untuk cuti kuliah. Dimana mahasiswa S1 statistik itu hanya berjumlah 14 orang. Tapi salah satu teman ada yang mau ambil cuti dengan alasan yang tidak jelas. Teman-teman satu kelas menyelidiki akan keganjalan dari pengambilan cuti. Ternyata Ambar ini mau dinikahkan dengan pacarnya. Jadi teman satu kelas tinggal 13 orang. Pipin pun berusaha menikmati perkuliahan yang hanya diikuti oleh 13 mahasiswa. Tak terbayangkan gimana ramainya dengan 13 mahasiswa saja, sangat ramai sekali dan hubungan persahabatan pun semakin erat.
Masalah yang sampai sekarng ini belum teratasi adalah masalah rumah kost. Pipin bertempat tinggal di Jln. Gemah Jaya I no 44, disana kamar yang ia tempati itu sangat panas. Hal ini dikarenakan atap dari rumah kost itu bukan dari genteng, melainkan masih atap beton, yang rencananya dulu mau di bangun tingkat oleh pemiliknya tetapi sampai sekarang belum dibangun juga. Selama Pipin tinggal dikost setiap malam hari rabu dan kamis ia selalu mengaji di rumah bu Nur, bu Nur sering ngobrol sehabis Pipin mengaji, rencana jika bu Nur sudah pensiun dari Pegawai Negeri Sipil beliau akan mengekostkan rumahnya. Tapi orang yang mau kost disana ada persyaratannya adalah tiap ada orang yang mau kost di rumah bu Nur harus bisa membaca al quran, karena bu Nur nanti setiap malam jumat akan mengadakan yasinan dirumah bersama dengan penghuni kost. Pipin ingin pindah dari kost lama ke rumah bu Nur, karena selain atap rumahnya dari genteng Pipin juga bisa menambah ilmu agama di rumahnya. Karena cita-cita Pipin selama ini yang belum tercapai adalah ia pengen sekali membahagiakan ibunya, dengan cara ia harus bisa Qiro’ah atau membaca al quran yang dilagukan. Inilah sebagian kisah perjalanan hidup Pipin yang baru ditempuh selama 20 tahun, tepatnya besuk pada tanggal 07 Juli. Semoga perjalanan hidup Pipin lebih dari yang diharapkan selama ini. Amien Ya Robbal Alamin…..
Semarang, 20 Juni 2011
Penyusun
Mifta Luthfin Alfiani
NIM B2A010018